Selasa, 03 November 2015

Forgive or Not?

Ada pepatah yang berkata seperti ini. “Hati-hati lho dengan orang yang diam karena biasanya mereka akan menaruh dendam dalam hati.” Menurutku pepatah ini benar sekali. Kalau minta testimoni orang terhadap diriku mungkin kata pertama yang mencerminkan aku adalah pendiam. Ya aku memang orang pendiam. Terutama pada orang-orang yang tak terlalu sering kutemui. Aku hanya bisa banyak bicara pada orang-orang yang sudah sangat dekat saja.

Aku punya satu dosa yang sangat sulit untuk dihilangkan, yaitu dendam. Ya sampai sekarang terkadang aku masih ingat pada luka lamaku yang telah terjadi kira-kira lima sampai delapan tahun yang lalu. Aku ngak bisa cerita apa itu luka lamaku secara detail di sini karena ini sifatnya privacy. Tapi luka itu membuat aku sangat sulit bergaul dengan orang baru. Luka itu juga membuatku tidak berani mengemukakan ideku sendiri karena aku pikir orang lain pasti akan menganggap kalau aku salah. Jadi aku memilih untuk ikut-ikut saja.

Sebenarnya aku hampir saja tidak lagi memikirkan luka tersebut karena disibukkan oleh pekerjaan. Tapi beberapa minggu yang lalu, lukaku kembali tergores dengan sangat dalam. Jadi ceritanya Youth di gerejaku akan mengadakan retret di bulan November. Aku terus terang ingin ikut sebenarnya. Tapi dilarang oleh Mama karena tiga minggu sesudahnya aku akan wisuda dan konser. Jadi aku harus tetap sehat. Papa tak sependapat denganku. Menurutnya ini adalah sarana untukku lebih dekat lagi dengan anak-anak Youth. Lalu ia mulai mengoceh bahwa aku kini lebih sering menghabiskan waktu di rumah daripada pergi ke luar dengan teman-teman. Ya kuakui memang ocehan itu ada benarnya juga. Aku malas pergi dengan teman-teman karena aku tak ingin lagi membuka luka lamaku itu.

Malam itu, aku tak bisa tidur hingga pukul setengah dua malam karena aku jadi teringat lagi dengan luka tersebut. Muka orang-orang yang menorehkan luka dalam hatiku mulai bermunculan dan seketika rasa benciku pada mereka langsung timbul. Mereka yang menyebabkan aku jadi orang yang sulit bergaul. Mereka yang menyebabkan aku jadi orang yang tidak berani mengemukakan pendapat. Semua ini gara-gara mereka!

Namun tiba-tiba Tuhan mengingatkanku bahwa aku harus tetap mengasihi mereka sama seperti Ia telah mengasihiku. Luka tersebut memang sengaja diberikan Tuhan agar aku belajar mengampuni orang-orang tersebut. Kalau Tuhan sudah memaafkan aku untuk setiap kesalahan yang telah kubuat setiap harinya, masa iya aku tak bisa memaafkan sedikit kesalahan mereka padaku. Justru aku harus mengampuni mereka agar mereka bisa merasakan kasih Tuhan. Lagipula aku seram juga kalau nanti dosaku jadi tidak diampuni karena aku tidak mengampuni mereka. Kalau dipikir-pikir malah aku yang rugi kalau aku masih dendam sama mereka. Merekanya malah mungkin sudah lupa apa yang mereka lakukan.

Ya sampai sekarang aku masih kesal kalau ingat luka itu. Tapi aku langsung ingat kalau aku harus mengampuni dan memberkati mereka karena bisa jadi mereka tidak sadar akan apa yang mereka perbuat. Malah mungkin aku yang harusnya berterima kasih pada mereka karena mereka telah menjadi booster-ku dalam pertandingan untuk meraih mahkota kemuliaanku. 

Minggu, 01 November 2015

Hectic October


Hai semuanya! Seperti biasa di artikel kali ini aku mau cerita tentang perenungan yang aku dapatkan dari bulan ini.

Bulan ini adalah bulan yang cukup hectic buatku. Tuhan ternyata telah menjawab semua pergumulanku selama ini (baca blog yang judulnya “Belajar Dari Hati” ya kalau mau tahu apa masalahku). Ia telah menambah-nambahkan murid yang sampai saat ini aku masih amaze banget dan ngak habis pikir. Semua murid-muridku tak pernah kukenal sebelumnya. Jadi semuanya didapat dari iklan di internet dan dikenalkan guru di tempatku mengajar.

Dalam kondisi seperti ini, jujur aku rasanya ngak bisa berhenti mengucap syukur buat berkat-Nya yang sama sekali aku ngak pernah pikirkan sebelumnya. Ini sangat sangat jauh melebihi ekspektasi. Saking jauhnya, aku sendiri mulai kewalahan untuk meng-handle murid-murid ini. Jadwalku langsung bertambah padat. Ditambah lagi aku harus latihan dengan giat karena aku harus improve teknik permainanku agar aku bisa mengajarkan teknik yang benar ke semua murid-murid. Tak hanya latihan piano klasik saja. Aku juga biasa menyisihkan waktu untuk berlatih piano pop karena sekarang aku kan sudah pelayanan. Jadi aku mau memaksimalkan talenta yang ada dalam diriku. Jadwalku bertambah padat karena aku juga masih harus ikut persekutuan, doa pengerja dan training di gereja. Akibatnya aku sering kali tidur jam dua belas dan bangun jam enam pagi supaya aku punya waktu untuk belajar banyak.

Sayangnya badanku rasanya belum bisa menyesuaikan dengan jadwalku yang padat ini. Aku akhirnya sakit selama dua minggu ini. Ngak enak banget sebenarnya karena sebagai guru, aku harus menghabiskan energiku dengan terus ngomong. Karena tak ingin sakitku bertambah parah, akhirnya aku tidur-tiduran di sela waktu mengajar. Jujur aku paling kesal kalau sudah seperti ini. Aku paling ngak suka tidur siang karena biasanya di saat seperti itu otakku akan bekerja dengan super aktif. Aku mulai memikirkan kekhawatiran masa depan yang sebenarnya masih belum kupikirkan karena Tuhanlah sutradara atas hidup kita.

Di saat seperti ini, muncullah suatu pemikiran “Coba kalau ngak ikut pelayanan. Pasti jadwalku ngak akan sesibuk sekarang.” Memang awal-awal pelayanan aku agak kurang srek sebenarnya dengan jemaat-jemaat yang ada. Mereka masih SMP atau SMA. Agak berbeda dengan kondisi waktu aku ada di komunitas rohani yang sebelumnya. Tapi entah mengapa Tuhan menaruh dalam hatiku bahwa panggilanku di situ. Memang aku telah bertumbuh banyak di komunitas sebleumnya. Tapi kalau Tuhan minta aku pindah, itu berarti Tuhan ingin aku dipakai secara maksimal di tempat yang baru. Jadilah aku pindah ke komunitas baru.

Balik lagi ke pemikiran tadi. Kalau dipikir-pikir pemikiranku ini egois sekali ya. Tuhan sudah memberiku talenta secara gratis dan aku seenaknya saja menyia-nyiakan talenta itu. Aku berniat untuk tidak memakai talenta itu untuk membuat hati banyak generasi muda lebih dekat lagi dengan Tuhan. Padahal Tuhan sudah memberiku kemampuan yang terus terang aku juga bingung kok bisa aku belajar secepat itu. Sebelum aku pelayanan, aku sama sekali ngak bisa transpose. Tapi sekarang, aku mulai pelan-pelan terlatih. Dulu aku juga suka salah memainkan chord dari sebuah lagu. Tapi sekarang kesalahanku mulai berkurang walaupun belum dalam tingkat sempurna.

Jadi aku mau bersyukur untuk setiap kesempatan yang sudah Ia beri. Ngak semua orang punya kesempatan untuk melayani Tuhan dan aku telah dipercayakan untuk melayani-Nya dengan cara yang ajaib. Aku mau saat aku dipanggil nanti Tuhan tersenyum karena aku telah melipat gandakan talenta yang Ia beri. 

Sabtu, 03 Oktober 2015

Proses Pembelajaran


Hai! Maaf ya sudah lama ngak ngepost. Lagi sibuk banget sekarang. Thank’s God aku bisa luangkan sedikit waktu untuk sharing di hari Sabtu yang sangat padatttt ini.

Jadi bulan kemarin aku les piano lagi. Tujuan utamanya sih untuk mendapatkan sertifikat yang lebih tinggi lagi. Ya, I really like to always learn new things. Lagi pula persaingan kerja sekarang sudah sangat kompetitif. Kupikir kita harus terus upgrade ilmu supaya ngak kalah sama saingan.

Tujuan keduanya supaya aku rajin latihan lagi kayak waktu kuliah. Karena semenjak aku lulus, frekuensi latihanku turun drastis. Kalau biasanya waktu kuliah aku bisa latihan minimal empat jam, setelah kuliah syukur banget kalau punya waktu dua jam penuh untuk latihan. Bukannya ngak ada waktu sebenarnya. Cuma rasanya malas saja karena ngak ada lagi goal yang diperjuangkan. Sebenarnya malu juga ya. Aku sebagai guru selalu meminta murid untuk latihan minimal dua puluh menit setiap hari. Tapi akunya sendiri malas-malasan kayak gini.

Oleh karena itu, aku memutuskan kalau aku harus les piano lagi. Setelah menimbang-nimbang siapa guru yang terbaik, akhirnya pilihanku jatuh pada seorang pianis Indonesia yang sudah sangat ternama di dunia musik. Kulihat ia memiliki wawasan yang sangat luas serta teknik dan musikalitas yang sangat bagus. Aku juga senang pada caranya penjelasannya yang selalu dianalogikan dengan kehidupan sehari-hari. Jadi aku lebih cepat mengingatnya.

Pertimbangan lain yang membuatku ingin les dengan dia adalah murid-muridnya yang banyak memenangkan kompetisi. Mereka juga sering meraih nilai yang sangat tinggi pada ujian piano.

Permasalahan timbul ketika ia memintaku untuk berlatih lagu dari buku Hanon setiap harinya untuk meningkatkan teknik permainanku. Awalnya, aku sangat depresi karena latihan ini membutuhkan kesabaran dan disiplin tingkat tinggi. Setelah kira-kira tiga minggu berlatih Hanon, aku merasa sepertinya kemampuan teknikku tidak berkembang. Akibatnya, fokusku selama bulan kemarin adalah aku adalah murid terbodoh. (Padahal aku sendiri juga tidak pernah melihat semua permainan mereka) Rasanya aku tidak dapat bersuka cita setiap harinya. Otomatis ini juga membuat pelayananku menjadi kurang berdampak. Mana bisa membuat hati orang lain lebih dekat dengan Tuhan kalau hati sendiri sedang tidak mood untuk menyembah Tuhan?

Minggu lalu, guruku memberiku sebuah analogi yang menurutku sangat bagus. Seorang remaja laki-laki yang usianya sedang dalam masa puberitas akan tumbuh dengan cepat. Namun jika seseorang bertemu dengannya tiap minggu, tentu saja ia tidak menyadari pertumbuhannya. Perubahan itu baru berasa jika sudah setahun tidak bertemu.

Belajar juga membutuhkan proses yang sama. Kita harus sabar menanti proses tersebut. Tak mungkin dalam waktu sebulan, permainan kita bisa langsung berubah banyak. Menurutnya, hal yang terpenting dari proses belajar adalah progress.

Jadi bersabarlah dalam proses pembelajaran. God bless.

Selasa, 23 Juni 2015

Menerima Jasa Les Piano Privat

Hi! Kali ini saya mau sedikit promosi nih. Jadi kini saya mengajar piano privat untuk pemula ataupun grade tinggi. Materi yang diajarkan:
1.Praktek 
2.Teori
3. Aural
4. Sight reading
*Murid dapat mendaftar untuk mengikuti ujian ABRSM.

Sistem pengajaran: 
- sesi belajar 45 - 60 menit
- 1 bulan 4x pertemuan
- Daerah jangkauan: Pluit, Muara Karang, PIK.

Sertifikat yang dimiliki: Ujian ABRSM grade 1-8, Ujian teori ABRSM grade 1-5.

Saat ini saya adalah alumni UPH jurusan musik dengan peminatan Individual Teaching.

Jika tertarik, silahkan WA atau email saya.
WA: 081617746575
Email: deby20@rocketmail.com

Rabu, 27 Mei 2015

All to Him Only


Testimoniku dan Merry Riana

Namaku Debora. Aku adalah mahasiswa UPH jurusan musik dengan instrumen mayor piano yang baru saja lulus sidang. Aku menulis ini adalah untuk memberkati orang yang membaca tulisanku. Aku ingin seperti Merry Riana yang dipakai hidupnya untuk memberkati orang lain.

 Pertama kali aku tertarik mendengar kisah Merry Riana adalah karena pembicaraan banyak orang. Banyak yang mengatakan bahwa Merry Riana telah mengubah hidup banyak orang. Aku pun jadi ikut tertarik membaca kisah Merry Riana. Buku pertama dari Merry Riana yang aku baca adalah “A Gift from A Friend”.

Dari buku itu, aku belajar bahwa kita harus mempunyai mimpi yang besar dan berusaha keras untuk mencapai mimpi tersebut. Setelah membaca buku ini, aku langsung membuat mimpi kalau aku harus mendapat IP lebih dari 3,75 setiap semesternya. Alasannya adalah karena kampusku membuat peraturan bahwa jika mahasiswanya berhasil meraih IP lebih dari 3,75, pihak kampus akan memberi beasiswa penuh selama satu semester. Jika ingin mempertahankannya, kita harus terus mendapat IP lebih dari 3,75 di semester berikutnya.

Awalnya aku berhasil mendapat IP lebih dari 3,75 di semester pertama dan kedua. Bahkan aku berhasil meraih nilai tertinggi di tahun pertamaku. Jujur ini adalah hasil yang di luar dugaan karena aku bukan anak yang pintar sewaktu SMA. Sewaktu SMA, aku akan sangat senang kalau hasil ulangan Biologi, Matematika, Fisika dan Kimiaku mendapat nilai lebih dari standar kelulusan yaitu 65. Jadi kalau aku mendapat nilai 66 saja aku sudah sangat senang.

Aku menyadari alasan aku bisa mendapat nilai tinggi saat kuliah adalah karena aku punya mimpi dan tahu persis tujuanku saat aku kuliah. Selain itu, aku berusaha keras menggapai mimpiku. Aku sampai menghabiskan waktu enam jam sehari untuk berlatih piano di ruang latihan di mana teman-temanku yang lain lebih banyak menghabiskan waktunya ke mall. Aku juga sering mengerjakan tugas sambil makan malam. Karena aku merasa aku harus berjuang keras, aku juga mulai meninggalkan komunitas di gerejaku.

Sayangnya prestasi ini malah membuatku menjadi orang yang sombong dan tidak peka dengan teman-temanku. Pernah sekali aku mengatakan pada temanku yang mendapat nilai jelek sewaktu ujian seperti ini. “Mankanya lu harus belajar yang rajin kayak gua. Sedikit lagi gua bisa dapat beasiswa.” Jujur aku juga lupa pernah mengatakan ini karena perkataan ini keluar dengan tidak sengaja. Namun temanku terus mengingatnya karena perkataan ini melukakan hatinya. 

Aku juga berubah menjadi orang yang selalu berpikir aku bisa melakukan ini karena hasil kerja kerasku. Aku lupa bahwa aku tak bisa sampai di sini karena penyertaan Tuhan.

Selain itu, kehidupannku saat itu menjadi dipenuhi dengan rasa stress. Aku terus memikirkan strategi bagaimana aku bisa memperoleh nilai tinggi baik saat mandi maupun saat aku jalan dari rumah ke kampus. Otakku rasanya tidak mau berhenti bekerja. Akibatnya aku mengalami kesulitan saat tidur.

Tuhan mungkin mau menyadarkanku bahwa aku sangat egois dan merubah sifatku. Ia membuat nilaiku jatuh di semester tiga. Memang tidak jatuh sekali. Tapi perbedaannya sangat signifikan. Jujur aku sangat terpuruk saat itu. Teman-temanku juga tidak ada yang menghiburku karena satu per satu dari mereka mulai menganggap aku bisa berdiri sendiri. Mereka menganggapku terlalu individualis.

Aku bersyukur akhirnya aku menemukan e-book dari Merry Riana yang berjudul “Dare to Dream Big”. Di situ tertulis bahwa ketika kita sukses, kita harus persembahkan itu untuk kemuliaan Tuhan. Aku menyadari bahwa motivasiku bermimpi saat itu adalah untuk membuktikan kalau aku anak yang pintar. Padahal seharusnya, aku melakukan ini semua untuk membuktikan kebesaran Tuhan.

Aku pun tak mau lagi berjuang mati-matian demi nilai. Aku mau hidupku menjadi berkat buat orang-orang di sekitarku hingga nama Tuhan yang dimuliakan. Aku pun kembali ke komunitas di gerejaku. Teman-temanku juga mau menerimaku lagi.

Di semester enam, aku harus mengadakan konser tunggal sebagai tugas dari kampus. Aku mempersiapkannya dari jauh-jauh hari seperti aku tidak bisa konser lagi seumur hidupku. Aku mempersiapkan poster, baju dan sepatu yang dipakai dan buku acara setengah tahun sebelumnya. Tak lupa aku juga berlatih sangat keras untuk mempersiapkan konser ini karena kunci supaya bisa bermain piano dengan baik adalah berlatih.

Bulan pun berganti bulan. Tak terasa sebulan lagi hari konserku tiba dan aku merasa persiapanku sudah sangat matang. Namun, dua minggu sebelum hari konserku, nenekku divonis terkena kanker stadium tiga. Jujur ini adalah berita mengejutkkan karena nenekku memiliki pola hidup yang sangat sehat. Ia selalu makan sayur dan tidak memakan gorengan. Di sini, Mama sangat terpukul melihat nenek terkena penyakit itu. Melihat Mama seperti itu, aku pun juga ikut-ikutan down. Semangatku untuk mengadakan konser langsung runtuh.

Untungnya Tuhan masih sayang denganku. Ia mengirimku teman dari komunitas yang menguatkanku. Ia berkata bahwa aku harus melakukan ini untuk kemuliaan nama Tuhan. Anggap ini kesempatan kedua untuk melayaninya. Mendadak aku langsung teringat dengan perkataan Merry Riana yang ada di e-book.

Puji syukur pada Tuhan akhirnya konserku berjalan dengan sangat lancar. Sama sekali tidak ada yang kurang dari konser tersebut. Malah menurutku hasilnya lebih baik dari latihanku. Tapi sekali lagi aku tak mau sombong. Aku persembahkan semuanya untuk kemuliaan Tuhan.


Selasa, 04 Maret 2014

This is My Dream


Seorang anak kecil berambut sebahu duduk manis di sofa sebuah sekolah musik. Sesekali ia melihat ke arah jam dinding. Sesekali ia melihat ke arah piala yang dimiliki sang anak pemilik sekolah musik tersebut sambil merenung kapan ia bisa mempunyai prestasi di bidang musik. Namun ia segera membuyarkan mimpinya karena ia tahu ia tidak akan pernah bisa sampai pada tahap itu. Wong mau lulus ujian saja sudah empot-empotan. Maklum tahun lalu anak itu hanya mendapat nilai seratus. Mungkin kalian berpikir hebat banget anak ini bisa mendapat nilai seratus. Permasalahannya adalah nilai seratus itu adalah nilai minimum atau bisa jadi nilai belas kasihan. Bisa jadi sang penguji hanya kasihan pada anak itu dan akhirnya meluluskannya dengan nilai yang sangat pas-pasan.

Ketika anak itu sedang asyik merenung, datanglah anak dari pemilik sekolah musik tersebut. Ia pun menyapa anak itu dengan ramah,” Del, belum dijemput?”

Anak itu langsung tersentak dari lamunannya. Lalu ia menjawab dengan malu-malu. “Belum, Ci.”

“Sabar ya,” katanya sambil berjalan menuju ke arah piano yang terletak di ruang tamu. Beberapa detik kemudian, mulailah ia memainkan sebuah lagu karya Claude Debussy dengan jarinya yang begitu lincah dan gerakan tubuhnya yang sangat meyakinkan hingga membuat sang anak berambut sebahu itu terpesona sekaligus sedih. Sedih karena ia sudah mempelajari lagu Minuet karya Johann Sebastian Bach selama lima bulan tapi belum juga menguasainya. Namun ia segera berpikir ‘kalau dia bisa harusnya aku bisa’. Sejak saat itulah sang anak kecil itu terus giat berlatih. Walaupun terkadang latihannya tidak membuahkan hasil dan tak jarang ia harus menitikkan begitu air mata karena sulitnya dunia musik, tapi tetap ia percaya kalau suatu waktu ia bisa bermain sebagus sang anak pemilik sekolah musik.

Setelah berulang kali dilecehkan oleh beberapa orang di sekitarnya, usaha anak itu barulah membuahkan hasil setelah empat belas tahun kemudian. Akhirnya setelah empat belas tahun kemudian barulah ia mampu bermain seindah anak pemilik tempat les itu. Dan anak itu adalah aku.

So, it’s all start from dream. If we can dream it, we can achieve it. 

Selasa, 31 Desember 2013

Resolution


   Hai semuanya! Cukup lama juga gua ngak ngeblog lagi. Berhubung hari ini adalah hari pertama di tahun 2014, gua akan ngepost tentang resolusi.
 
   Jujur aja di tahun 2013 kemarin, ada beberapa resolusi gua yang tercapai. Tapi banyak juga yang tidak tercapai. Awalnya gua sedih kenapa banyak resolusi yang tidak tercapai. Tapi kini gua sadar. Waktu gua bikin resolusi di tahun 2013, gua ngak mengkonsultasikannya ke Tuhan. Padahal sebenarnya konsultasi ini penting banget lho karena apa yang dipikirkan Tuhan kan berbeda dengan apa yang dipikirkan manusia.Tapi gua ngak menyesal kok dengan banyaknya resolusi gua yang tidak tercapai karena semuanya itu membuat gua belajar hal baru dan menambah keintiman gua dengan Tuhan.

   So, sudahkah kalian membuat resolusi? Lantas apakah resolusi itu berkenan di mata Tuhan? Atau hanya keinginan kita aja?